Kamis, 30 Mei 2013

Pembuatan Larutan

 Standar Kompetensi       : Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia dan faktor – faktor yang  memengaruhinya serta   penerapannya dalam kehidupan
Kompetensi Dasar           : Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan melakukan percobaan tentang faktor – faktor yang memengaruhi laju reaksi
Tujuan Pembelajaran     : Menjelaskan pengertian kemolaran, serta cara menyediakan larutan dengan kemolaran tertentu
Teori                                      :
Zat kimia umumnya diperdagangkan dalam bentuk padatan  (Kristal) atau larutan pekat, jarang sekali dalam bentuk pakai. Sementara itu, di percobaan – percobaan laboratorium seringkali menggunakan larutan encer. Oleh karena itu, larutan yang diperlukan harus dibuat dari larutan pekat atau melarutkan zat padat.  Membuat larutan dari padatan murni dilakukan dengan mencampurkan zat terlarut dan pelarut dalam jumlah tertentu. Larutan dibuat dengan konsentrasi tertentu, dan dinyatakan dalam konsentrasi Molaritas (M).
M = n/V      Dimana, M = Molaritas
n = jumlah zat terlarut (mol)
V = Volume Larutan (Liter)
Salah satu keuntungan jika konsentrasi larutan dinyatakan dengan kemolaran, maka menentukan jumlah mol zat terlarut dapat diperoleh dengan mengukur volume larutan.
Ketika bekerja di laboratorium juga diperlukan untuk mengencerkan larutan,yaitu memperkecil konsentrasi larutan dengan jalan menambahkan sejumlah tertentu pelarut. Pengenceran menyebabkan volume dan kemolaran larutan berubah, tetapi jumlah zat terlarut tidaklah berubah. Maka n1 = n2 atau
V1. M1 = V2 M2
Alat dan Bahan   :
  1. Neraca                                                     8. Asam Oksalat C2H2O4                                  
  2. Kaca Arloji                                              9. Aquadest
  3. Labu Ukur 100 ml dan 50 ml
  4.  Pipet Volumetrik 25 ml
  5.   Pengaduk
  6.  Corong
  7.  Bulp
Cara Kerja           :
  1. Ditimbang  ± 0.5 gram asam oksalat ke dalam kaca arloji
  2. Lalu dimasukkan asam oksalat ke dalam labu ukur 100 ml
  3. Larutkan dengan aquadest, dan tambahkan hingga tanda batas
  4. Larutan dikocok sampai homogen
  5. Pipet 25 ml larutan tersebut ke dalam labu ukur 50 ml,ditambahkan aquadest hingga tanda batas.
Perhitungan       :
  1. Hitung Molaritas larutan asam oksalat!
  2. Hitunglah konsentrasi asam oksalat setelah diencerkan
 Pembahasan :
1. Dik :   n = gr/Mr = 0.5/90 = 0.0056
   V= 100ml = 0.1 L
   Dit : M
   
   Jawab : M = n/mol = 0.0056/0.1 = 0.056 M

2. Dik : - V1 = 25 ml                  - M1 = 0.056 M


            - V2 = 50 ml

    Dit : M2    

    Jawab :         V1. M1 = V2 M2
                         25. 0.056 = 50. M2

                               M2    = 25. (0.056) / 50 = 0.028 M


   
Kesimpulan        : Molaritas larutan asam oksalat pekat adalah 0.056 M sedangkan molaritas asam                           oksalat setelah diencerkan dengan akuades adalah 0.028 M.

Kelompok 2 :
- Ahmad Mujahid Ali
- Atika Sari
- Desi Nugraheni
- Dina Purnamasari
- Dzikri Insan

XI IPA 1

Asam Basa

Memperkirakan pH larutan dengan beberapa indicator
Standar Kompetensi     : Memahami sifat – sifat larutan asam basa, metode pengukuran dan penerapannya
Kompetensi Dasar         : Mendeskripsikan teori – teori asam basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan
Teori    :
Untuk mengetahui suatu larutan bersifat asam atau basa dapat dilakukan dengan menggunakan indicator kertas lakmus. Namun, apabila ingin mengetahui berapa pH suatu larutan diperlukan indicator universal atau pH meter. Ada juga cara lain, yaitu dengan menguji larutan terebut dengan beberapa larutan tersebut dengan beberapa indicator yang telah diketahui trayek pH nya seperti pada tabel .trayek pH dan perubahan warna beberapa larutan indicator.
No.
Indikator
Perubahan Warna
Trayek pH
1.
Metil Jingga
Merah-Kuning
2,9 – 4,0
2.
Metil Merah
Merah-Kuning
4,2 – 6,3
3.
Bromtimol Biru
Kuning-Biru
6,0 – 7,6
4.
Fenolftalein
Tak berwarna-Merah
8,3 – 10,0
5.
lakmus
Merah-Biru
5,5 – 8,0
            Indikator asam dan basa adalah zat yang dapat memberikan warna yang berbeda pada larutan asam dan basa. Melalui perbedaan warna tersebut akhirnya dapat diperkirakan kisaran pH suatu larutan. Trayek perubahan warna adalah batasan pH dimana terjadi perubahan warna indikator. Salah satu indikator yang umum digunakan dalam pengujian larutan asam dan basa adalah kertas lakmus. Kertas lakmus terdiri dari 2 warna yaitu lakmus biru dan lakmus merah. Jika larutan bersifat asam, maka kertas lakmus biru akan berubah menjadi merah, sedangkan kertas lakmus merah tidak akan berubah warna (tetap berwarna merah). Jika suatu larutan bersifat basa, maka kertas lakmus biru tidak akan berubah warna (tetap biru) sedangkan kertas lakmus merah akan berubah warna menjadi biru. Namun jika tidak terjadi perubahan warna kertas lakmus (lakmus biru tetap biru dan lakmus merah tetap merah) maka larutan tersebut bersifat netral.
Tujuan                  : Memperkirakan pH beberapa larutan dengan menggunakan kertas lakmus dan beberapa  larutan indicator asam basa
Alat dan Bahan :
1.       Tabung Reaksi
2.       Pipet Tetes
3.       Rak Tabung
4.       Larutan A, B, C
5.       Air sumur
6.       Air sungai
7.       Air Cucian Beras
8.       Air Sabun
9.       Air Kelapa
10.   Air Teh
11.   Larutan Indikator Asam Basa : MM, MJ, BTB dan PP
Cara Kerja           :
1.       Masing – masing larutan yang akan diperiksa dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1/4 tabung.
2.       Uji sifat larutan dengan kertas lakmus merah dan biru,kemudian dicatat perubahan warna yang terjadi.
3.       Larutan A dimasukkan ke dalam empat buah tabung reaksi sebanyak 1/4 tabung.
4.       Larutan tersebut diteteskan dengan menggunakan pipet tetes larutan indicator Metil Merah pada tabung 1, Metil Jingga pada tabung 2, Bromo Timol Biru pada tabung 3 dan Fenol Ftalein pada tabung 4.
5.       Kemudian diamati perubahan warna yang terjadi.
6.       Dilakukan hal yang sama (langkah 3 – 5)  pada larutan yang lain
Hasil Pengamatan           :
1.       Pengujian dengan kertas lakmus
No.
Larutan
Perubahan Warna
Perkiraan pH
Lakmus Merah
Lakmus Biru
1.
A
Biru
Biru
Basa
2.
B
Merah
Biru
Netral
3.
C
Merah
Merah
Asam
4.
Air Sumur
Merah
Merah
Asam
5.
Air Sungai
Merah
Biru
Netral
6.
Air Sabun
Biru
Biru
Basa
7.
Air Teh
Merah
Merah
Asam
8.
Air Cucian Beras
Merah
Biru
Netral
9.
Air Kelapa
Merah
Merah
Asam
2.       Pengujian dengan larutan indikator
No.
Larutan
Perubahan Warna
Perkiraan pH
MM
MJ
BTB
PP
1.
A
Kuning
Jingga
Biru
Ungu
≥ 10,0
2.
B
Jingga
Jingga
Hijau
Tak berwarna
≤ 6,3
3.
C
Merah muda
Merah
Jingga
Tak berwarna
≤ 6,3
4.
Air Sumur
Merah
Jingga
Hijau
Tak berwarna
≤ 4,0
5.
Air Sungai
Merah
Jingga
Hijau
Tak berwarna
≤ 4,0
6.
Air Sabun
Kuning
Jingga
Biru
Tak berwarna
≥ 7,6
7.
Air Teh
Merah
Jingga
Hijau
Tak berwarna
≤ 4,0
8.
Air Cucian Beras
Kuning
Jingga
Hijau
Tak berwarna
≤ 7,6
9.
Air Kelapa
Merah
Jingga
Jingga
Tak berwarna
≤ 4,0
Pembahasan    :
                 
1.       Sebutkan larutan apa saja yang bersifat asam, basa dan netral!
Berdasarkan pengujian yang telah digunakan dengan menggunakan kertas lakmus sebagai indikator.
·         Larutan yang bersifat asam (memerahkan lakmus biru) : larutan C, air sumur, air teh, dan air kelapa.
·         Larutan yang bersifat netral : larutan B, air sungai, air cucian beras.
·         Larutan yang bersifat basa ( membirukan lakmus merah) : larutan A, dan air sabun.
2.       Bagaimanakah nilai pH untuk larutan yang bersifat asam, basa dan netral?
·         Asam : 1 – 6 (kuat – lemah)
·         Netral : 7
·         Basa  : 8 – 14 (lemah – kuat)
Kesimpulan      :
            Untuk menentukan sifat suatu larutan baik asam, netral, maupun basa dapat menggunakan kertas lakmus sebagai indikator. Larutan yang bersifat asam akan memerahkan lakmus biru contoh larutannya larutan C, air sumur, air teh dan air kelapa. Yang bersifat netral kertas lakmus tidak mengalami perubahan warna contoh larutannya larutan B, air sungai, dan air cucian beras. Sedangkan untuk larutan basa akan membirukan lakmus merah contoh larutannya larutan A dan air sabun.
            Selain dengan kertas lakmus dapat juga digunakan beberapa larutan sebgai indikator antara lain larutan Metil Merah (MM), Metil Jingga (MJ),Brom Timol Biru (BTB), dan Fenolftalein (PP). Untuk mengetahui sifat larutan dengan indikator ini dapat dilihat berdasarkan perubahan warna yang terjadi seperti pada tabel 2